BGN Dorong UHO Jadi Motor Penguatan Program Makan Bergizi Gratis
Dok: Istimewa.
Jakarta - Universitas Halu Oleo (UHO) kembali menjadi pusat diskusi penting terkait penguatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah menggelar audiensi dan kuliah umum bersama Badan Gizi Nasional (BGN) di Ruang Rapat Senat Lantai 4 Rektorat, baru-baru ini.
Dalam forum tersebut, BGN menegaskan bahwa kampus memiliki peran strategis dalam memastikan keberlanjutan layanan gizi nasional bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai penggerak ekosistem gizi yang berbasis riset dan inovasi.
Diskusi berlangsung dinamis ketika Direktur Tata Kelola Pemenuhan Gizi BGN, Prof. Dr. Ir. Sitti Aida Adha Taridala, M.Si, memaparkan secara rinci lima kontribusi utama perguruan tinggi dalam menopang kualitas Program MBG.
Lima Kontribusi Besar Perguruan Tinggi untuk MBG
Prof. Sitti Aida menegaskan bahwa sejumlah peran kampus tidak dapat digantikan oleh institusi mana pun.
Pertama, riset dan inovasi, terutama terkait pangan lokal, keamanan pangan, hingga pengembangan menu yang sesuai budaya masyarakat.
“Potensi lokal masih banyak yang belum digarap. Kampus punya modal kuat untuk itu,” ujarnya.
Kedua, penguatan SDM. Menurut BGN, keberhasilan MBG sangat bertumpu pada tenaga terlatih. Perguruan tinggi menjadi ruang lahirnya para ahli gizi, manajer operasional, hingga tenaga akuntansi yang diperlukan dalam pengelolaan dapur layanan gizi. Mahasiswa dapat berkontribusi melalui program magang maupun KKN.
Ketiga, kampus berperan sebagai garda depan pendampingan dan pelatihan. BGN melihat potensi besar dosen dan praktisi untuk mendampingi pengelola dapur gizi, yayasan, hingga kader masyarakat agar layanan berjalan sesuai standar dan berbasis bukti.
Kontribusi keempat adalah monitoring dan evaluasi. Banyak program nasional berjalan tanpa dukungan data jangka panjang, dan BGN menilai kampus memiliki kapasitas terbaik untuk menyediakan analisis kualitas gizi, kebersihan, hingga efektivitas distribusi.
Kelima adalah pengembangan ekosistem inovasi, sebuah aspek yang kini menjadi fokus BGN. Perguruan tinggi dapat menghubungkan riset dengan UMKM pangan, startup, dan koperasi mahasiswa, sehingga terbentuk rantai produksi dan distribusi yang lebih kokoh. BGN menekankan model kolaborasi triple helix—kampus, pemerintah, dan industri—sebagai kunci memperkuat ekosistem gizi nasional.
BGN: UHO Harus Jadi Penggerak, Bukan Sekadar Peserta
Di akhir sesi, BGN menegaskan pentingnya peran aktif UHO.
“Kolaborasi antara pemerintah, universitas, dan masyarakat adalah kunci untuk memastikan generasi Indonesia tumbuh sehat dan produktif,” ujar Prof. Sitti Aida.
Pertemuan ini menegaskan kembali bahwa pembangunan gizi nasional bukan hanya urusan dapur layanan, melainkan kerja intelektual yang membutuhkan riset, inovasi, serta komitmen jangka panjang.
BGN dan UHO sepakat memperkuat sinergi agar Program MBG tidak hanya berjalan, tetapi berkembang menjadi gerakan besar menuju generasi Indonesia yang lebih sehat dan berdaya saing.


